

Waktu melirikku perlahan,
menjatuhkan hujan di sudut halaman,
menanam tentram yang berbuah gundah,
mencoba menggodaku dengan ujung jarinya.
Kuteguk lagi setetes kopi dalam cangkirku,
berharap dapat kutemui dalam ragu,
dan memahami sosok sang waktu.
Sekelebat mataku berkedip,
Hampir tak percaya ku melihatnya,
waktu terdiam menatap kikuk langkahnya,
dan kembali tenang di paras selanjutnya,
setelah rantai cahaya kembali bertahta.
Merasa sedikit mengerti,
biar kusimpan dalam hati,
waktuku kini kembali,
Dan hujan pun berhenti.





