
Gelisah aku menanti tawa putri yang bisu,
Putri yang menebas waktuku setiap hari sepanjang umurku tanpa ekspresi,
Putri yang mengubahku dari merah, biru, abu-abu, hingga tak berwarna,
Putri yang tak mau berpaling dan berjalan tanpa henti.
Ku merindukan senyum sang Putri,
Kurangkum derita di setiap kesepian bersamamu,
Kusimpul senyum di setiap anugerah bersamamu,
Hingga kini ku menantang dogma tunggal yang membohongi fakta,
dogma yang merampas senyummu sejak 13 tahun yang lalu.
Biarkan setiap detik ini berjalan, dan putri pun akan segera bicara,
Indahnya cerita yang menghias arti perjalanan kita.
Kadang pula duka memiliki wejangan yang jauh lebih bermakna,
Bersama air mata ku coba mengambil hikmah,
Dan mengevolusikan semua menjadi suka.
Ketika nanti putri berhenti berjalan,
aku akan menghadap Raja . .




puisinya bagus,wlo q gak ngerti maksudnya..
loh, trus kamu nilai bagusnya dari mana?
makasih mon . .