
“Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Adam dan Hawa turun ke bumi
Turunlah mereka berdua ke bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.
Di bumi pasangan Adam dan Hawa bekerja keras mengembangkan keturunan. Keturunan pertama mereka ialah pasangan kembar Qabil dan Iqlima, kemudian pasangan kedua Habil dan Labuda. Setelah keempat anaknya dewasa, Adam mendapat petunjuk agar menikahkan keempat anaknya secara bersilangan, Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima.
Namun Qabil menolak karena Iqlima jauh lebih cantik dari Labuda. Adam kemudian menyerahkan persolan ini kepada Allah dan Allah memerintahkan kedua putra Adam untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, ialah yang berhak memilih jodohnya. Untuk kurban itu, Habil mengambil seekor kambing yang paling disayangi di antara hewan peliharaannya, sedang Qabil mengambil sekarung gandum yang paling jelek dari yang dimilikinya. Allah menerima kurban dari Habil, dengan demikian Habil lebih berhak menentukan pilihannya.
Pada surat Al Maaidah ayat 27 disebutkan:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
Lalu Qabil membunuh Habil (pembunuhan pertama di dunia ini). Keegoisan yang melekat Qabil, kecemburuan, persaingan, dan agresi menjadi alasan utamanya.
![]()
Menurut Al-Qur’an, Cain (Qabil) dimakamkan Abel (Habil), setelah melihat satu gagak yang menggali-gali tanah atas perintah Allah. Al-Quran menyatakan bahwa setelah melihat gagak itu, Qabil menyesali tindakannya [al-Ma'idah :27-31], dan bahwa ketimbang dikutuk oleh Allah, karena Dia tidak melakukannya sebelumnya, Allah memilih untuk menciptakan sebuah hukum yang melarang pembunuhan:
If anyone slew a person – be it for murder or for spreading mischief in the land – it would be as if he slew the whole people; and if anyone saved a life, it would be as if he saved the life of the whole people.
![]()
Menurut keyakinan Muslim Syi’ah, Habil dimakamkan di Masjid Habeel Nabi, yang terletak di sebelah barat Damaskus, di Suriah.
(5:26) (Muhammad) tell them the true story of the two sons of Adam (Abel and Cain). Each one of them offered a sacrifice. God accepted the sacrifice of one of them (Abel) but not that of the other (Cain) who then said to his brother, “I shall certainly kill you.” (Abel) replied, “God only accepts the offerings of the pious ones (5:27).
Even if you try to kill me, I certainly shall not try to kill you. I have fear of God, the Lord of the creation (5:28).
I would prefer you to take sole responsibility for both our sins and thus become a dweller of hell; this is what an unjust person deserves.” (5:29) (Cain’s) soul prompted him to kill his own brother. In doing so he became of those who lose (5:30).
God sent down a raven which started to dig up the earth to show the killer how to bury the corpse of his brother. On seeing the raven, (Cain) said, “Woe to me! Am I less able than a raven to bury the corpse of my brother?” He became greatly remorseful. (5:31) .
Setelah pembunuhan Habil, Qabil diperintahkan untuk mengembara di muka bumi sebagai hukuman, muncul sebuah tradisi bahwa hukuman ini untuk selamanya, dengan cara yang sama dengan legenda (yang akan muncul jauh setelahnya) dari Flying Dutchman atau Wandering Jew. Menurut beberapa sumber-sumber Islam, seperti al-Thabari, Ibnu Katsir dan al-Tha’labi, ia pindah ke Yaman. Sebuah legenda abad pertengahan pernah mengatakan bahwa pada akhirnya, Qabil tiba di Bulan, di mana ia menetap selama-lamanya dengan setumpukan ranting. Ini berasal dari fantasi popular yang menafsirkan ‘the shadows on the Moon face’. Contoh keyakinan ini dapat ditemukan di Dante Alighieri’s Inferno (XX, 126 [52]) di mana ungkapan “Cain and the twigs” digunakan sebagai sinonim dari “Moon”.




Seingatku burung gagak itu didatangkan Allah saat Qabil telah membunuh saudaranya, namun tidak tau apa yg hrs diperbuatnya.
Melalui burung gagak itulah Allah mengajarkan kpd manusia apa yg hrs dilakukan trhdp tubuh manusia yg telah mati.
Bener mas Aji, tadi ada sedikit salah penerjemahan..
Tapi maksudnya begitu ^^
Trima kasih . .
btw ada citation-mu
– Al-Ma’ida (Sura 5)[44]
ngelink ke file:///